ditulis oleh Prof. Suyanto , Ph.D
SEMUA siswa di SD, SMP, SMA, SMK dan di sekolah-sekolah lain yang sederajad saat ini tinggal menghitung hari untuk menempuh Ujian Nasional (UN) atau Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN). Saat ini situasi sekolah dan keluarga memang berubah secara signifikan. Perubahan itu menunjukkan adanya upaya dari berbagai pihak: sekolah, kepala sekolah, guru, siswa dan juga keluarga untuk siap-siap memasuki UN atau UASBN.
Dulu saya tak pernah mendapat SMS dari orangtua siswa menanyakan berapa standar kelulusan bagi UN dan berapa mata pelajaran yang akan diujikan. Tetapi pada era UN dan UASBN ini banyak keluarga bertanya soal itu. Dulu para keluarga tidak semuanya peduli pada cara belajar anak-anak mereka. Sekarang orangtua banyak yang ikut cemas terhadap anaknya kalau-kalau mereka gagal dalam menempuh UN.
Perubahan ini sangat baik dalam konteks untuk mempersiapkan anak-anak kita selalu siap bersaing, berdisiplin diri, dan bekerja keras untuk masa depan mereka. Artinya, UN bisa menciptakan budaya baru dalam pendidikan kita, meskipun juga harus diakui masih ada kecurangan yang harus kita berantas bersama. Ketika banyak pihak sudah mulai cemas terhadap pendidikan anak-anak kita, ini pertanda bahwa pendidikan akan bisa menuju tingkat kualitas yang kita harapkan.
Pada hakikatnya memang proses pendidikan itu kalau dilihat dari satu aspek psikologis saja, tugas penting-nya adalah untuk menimbulkan kecemasan yang moderat dan terkendali bagi anak-anak dan orangtua agar terjadi upaya untuk mengurangi kecemasan itu, yaitu dengan cara: belajar, belajar dan berlatih diri.
Ujian Nasional kali ini standar kelulusannya dinaikkan menjadi 5,25 dengan tidak boleh ada salah satu mata pelajaran yang mendapatkan nilai di bawah 4,25, Kalaupun ada satu nilai mati, maka harus bisa dikompensasi dengan nilai mata pelajaran lainnya di atas angka 6. Bagi para siswa saran saya ialah belajar yang baik, sistematis dan kontinyu. Terutama bagi siswa yang saat ini masih kelas dua, belajarlah sebaik mungkin secara teratur. Jangan belajar dengan metode ‘wayangan’, diborong pada saat dekat dengan ujian. Kalau ini terjadi tentu peluang gagalnya tinggi sekali.
Bagi yang akan menempuh UN saya sarankan tiga hari sebelum hari H nya kurangi ketegangan belajar. Usahakan relaksasi dengan mendengarkan musik, olah raga ringan, agar fisik dan faktor kejiwaan kalian tidak kelelahan. Apalagi di malam harinya sebelum besok harinya UN, para siswa perlu menghindari belajar bergaya ’Wayangan’ semalam suntuk. Kalau hal itu yang kalian lakukan, maka keesokan harinya kalian akan menderita kelelahan fisik dan mental, sehingga proses penuangan kembali (re-call) semua informasi (kognitif) yang dipelajari akan mengalami kesulitan. Saran saya ini berlaku jika kalian memang juga sudah menyiapkan diri sepanjang tahun sebelum UN berlangsung.
Meskipun UN terbukti bisa mengubah budaya belajar walau masih ada perubahan yang menggunakan metode pengkarbitan dan ‘wayangan’, masih ada juga yang protes karena kondisi sekolah yang tidak sama mengapa diperlakukan dengan syarat pencapaian nilai yang sama. Keadaan seperti ini akan tidak adil kata mereka. Hal ini juga menjadi banyak pertanyaan para wakil rakyat dari berbagai daerah yang datang ke kantor Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah baru-baru ini.
Sebenamya tuntutan nilai UN itu ‘kan syarat minimal. Jadi kondisi sekolah yang berbeda sudah diakomodasi dengan syarat minimalis itu. Selanjutnya cara berpikir bahwa kita harus menyamakan kondisi sekolah dalam arti yang luas, kemudian baru melakukan UN agar prinsip keadilan bisa tercapai, tidaklah benar.
Mengapa begitu? Karena dalam pendidikan yang namanya outcome tidak bisa distandarkan dibuat sama. Para wakil rakyat di daerah yang mengajukan pertanyaan itu, kemudian saya ajak merefleksikan diri kita masing-masing dengan mengingat kembali berapa teman kita seangkatan di sekolah dulu yang nasibnya sama dengan mereka, lebih baik, lebih jelek, atau bahkan yang menjadi orang tidak jelas sekalipun. Ternyata semua mereka punya.
Artinya, meskipun kita dulu dididik oleh guru yang sama, dengan kurikulum yang sama, duduk di kursi dan meja yang sama di dalam ruang kelas yang sama, makan dan minum di kantin yang sama pula, toh hasil belajar dari sekolah itu berbeda satu sama lain. Dari satu kelas itu ada yang bisa jadi dokter, jadi jenderal, ada yang jadi pegawai biasa dan bahkan mungkin ada yang jadi orang susah hidupnya.
Karena itu tak ada gunanya saat ini berdebat lagi soal adil tidaknya UN. Anak-anak kita sudah siap. Orangtua sudah lebih sadar akan pentingnya belajar para anak mereka di rumah, para guru juga semakin siap untuk rriengantar para siswa mereka dengan mengajar semakin terfokus pada tujuan pembelajaran dan kepala sekolah juga telah siap kepemimpinannya menghadapi UN.
Kesiapan kolektif itu juga direpresentasikan adanya fenomena doa bersama di sekolah untuk menghadapi UN. Meskipun demikian, ada kiat praktis bagi para siswa ketika mengerjakan soal UN. Kalau membaca soal dan kemudian sudah ketemu jawaban yang benar dari salah satu pilihan, nggak perlu meneruskan baca pilihan yang lain. Kalau nggak tahu mana yang benar secara meyakinkan, cari semua jawaban yang salah, maka sisanya itulah yang benar.
Tetapi ingat, bahwa soal yang baik selalu menyodorkan alternatif jawaban yang sulit dibedakan mana yang benar dan mana yang salah. Oleh karena itu kemampuan berpikir dan menganalisis sangat diperlukan. Kalau waktu-nya habis temyata kalian masih menyisakan pertanyaan cukup banyak, Jangan biarkan lembar jawaban kosong. Saya doakan para siswa suk-ses semua dalam UN. (*)
22 April 2008 dari www.mandikdasmen.depdiknas.go.id

